Berita Hawzah – Ayatullah Sayyid Ahmad Alamulhuda dalam wawancaranya dengan jaringan berita Al-Mayadeen Lebanon, berbicara mengenai Pemimpin Syahid, Imam Sayyid Ali Khamenei, dan kepemimpinan baru, Yang Mulia Ayatullah Sayyid Mujtaba Khamenei hf.
Beliau menegaskan: 'Setelah peristiwa (syahadah Imam Sayyid Ali Khamenei), sejak awal sejumlah tokoh besar Majelis Ahli dan para pemuka berpendapat bahwa kepemimpinan sebaiknya dipegang oleh Tuan Mujtaba.'
Beliau menyatakan: 'Aturan dasarnya adalah bahwa sesuai dengan konstitusi, Majelis Ahli harus segera menetapkan pemimpin; ini merupakan tugas mendesak Majelis Ahli Kepemimpinan. Oleh karena itu, di Majelis Ahli telah ditentukan sebuah kelompok tiga orang yang bertugas mengidentifikasi calon-calon, dan mereka yang memiliki rekam jejak, apabila terjadi peristiwa (wafat/syahadah pemimpin), maka Majelis Ahli segera mengadakan sidang dan menetapkan pemimpin. Ini adalah kewajiban Majelis Ahli yang harus menetapkan pemimpin pada kesempatan pertama yang tersedia.'
Anggota Majelis Ahli Kepemimpinan tersebut, dalam menjawab pertanyaan mengenai para calon, menjelaskan: 'Telah ada sejumlah kandidat yang sudah diketahui oleh Majelis Ahli sejak sebelumnya, dan telah teridentifikasi pada periode-periode Majelis Ahli yang lalu. Mungkin ada sejumlah tokoh yang mereka pertimbangkan, namun prosesnya belum sampai pada tahap penetapan. Apabila Majelis Ahli membutuhkan jeda waktu, sekadar satu atau dua hari, maka akan dibentuk Dewan Kepemimpinan agar negara tidak berada dalam keadaan tanpa pemimpin. Dewan Kepemimpinan ini harus dibentuk, yang terdiri dari Presiden, Ketua Mahkamah Agung, dan salah seorang fakih dari Dewan Wali. Alasan mengapa salah seorang fakih dari Dewan Wali dilibatkan dalam Dewan Kepemimpinan adalah untuk menjamin legitimasi keputusan-keputusan yang akan diambil oleh Dewan Kepemimpinan tersebut.'
'Oleh karena itu, harus ada satu orang dari Dewan Wali yang hadir di dalamnya. Namun, negara tidak bisa diserahkan begitu saja kepada Dewan Kepemimpinan; kita harus memiliki seorang pemimpin. Sejak hari pertama dan sejak awal kami memikirkan penetapan kepemimpinan, hampir dapat dikatakan bahwa sejumlah tokoh besar Majelis Ahli dan para pemuka berpendapat bahwa kepemimpinan sebaiknya dipegang oleh Sayyid Mujtaba Khamenei, dengan beberapa alasan.'
Beliau melanjutkan: "Kami di hawzah ilmiyah memiliki banyak mujtahid. Setelah Revolusi, hawzah mengalami perkembangan pesat dan hadir pula generasi muda yang religius serta berwawasan luas. Mereka adalah para fakih, mujtahid, dan adil. Akan tetapi, yang terpenting bagi kami adalah persoalan ini: kami menginginkan seorang pemimpin yang —di samping menjadi mujtahid, fakih terkemuka, dan adil— juga mampu menggerakkan Revolusi tetap pada rel yang sama yang telah ditetapkan oleh Imam (Khomeini ra) dan Pemimpin Agung (Syahid Ayatullah Khamenei ra), hingga datangnya zaman Imam Mahdi (as) semoga Allah menyegerakan kemunculannya."
Riwayat tentang Sidang Terakhir Pemimpin Syahid bersama Majelis Ahli
Ayatullah Alamulhuda menyatakan: 'Dalam rangka menindaklanjuti persoalan ini, Pemimpin Agung sendiri —yakni Imam Syahid Sayyid Ali Khamenei ra— pada sidang terakhir ketika Majelis Ahli menghadap beliau dan merupakan pertemuan terakhir kami dengan beliau, seakan-akan beliau mendapat ilham bahwa ini adalah sidang terakhir Majelis Ahli bersama beliau. Maka beliau pun mulai berbicara mengenai pemilihan pemimpin (rahbar). Saat itu, sebagian orang merasa khawatir bahwa ucapan beliau akan menimbulkan keresahan di kalangan rakyat. Dalam pernyataannya pada sidang tersebut, beliau menyampaikan satu kalimat dan mengatakan: "Salah satu hal yang harus benar-benar diperhatikan oleh Majelis Ahli dalam memilih pemimpin adalah agar revolusi tidak menyimpang dari jalurnya, dan hendaknya dipilih seorang pemimpin yang mampu menjaga revolusi."
Beliau menambahkan: 'Di sana beliau memberikan arahan mengenai hal itu, dan persoalan ini tetap membekas di benak kami. Oleh karena itu, kami membutuhkan seorang pemimpin yang —di samping memiliki kualifikasi ijtihad dan keadilan— juga mampu membawa revolusi tetap pada jalur yang telah beliau tentukan. Dalam hal ini, kami tidak menemukan sosok yang lebih baik daripada Yang Mulia Ayatullah Sayyid Mujtaba Khamenei hf. Beliau adalah seorang mujtahid yang berwibawa, menguasai ilmu, dan seorang fakih. Kefakihan dan ijtihad beliau juga telah terbukti secara luas bagi khalayak umum, dan kuliah tingkat luar (dars-e kharij) beliau di Qom merupakan kuliah yang sangat penuh manfaat yang dimanfaatkan oleh semua orang.'
Hari Ketika Kefakihan Pemimpin Baru Terbukti Bagiku
Perwakilan Wali Fakih di Khorasan Razavi menjelaskan tentang kapasitas keilmuan pemimpin baru: 'Bagi saya pribadi, ijtihad beliau telah terbukti secara khusus. Suatu hari di Mashhad, di Taman Malekabad, saya sedang bersama Pemimpin Syahid (Sayyid Ali Khamenei ra) dan Yang Mulia Ayatullah Sayyid Mujtaba Khamenei juga hadir. Hanya ada saya, Pemimpin Syahid, dan Yang Mulia Ayatullah Sayyid Mujtaba Khamenei. Dalam suatu persoalan fikih, terjadi perbedaan pendapat antara beliau (Sayyid Mujtaba) dan almarhum Imam Khamenei. Yang Mulia Ayatullah Sayyid Mujtaba Khamenei mulai mengemukakan argumentasi. Pada awalnya, Imam Khamenei menjawab dengan sederhana, tetapi ketika beliau (Sayyid Mujtaba) masuk ke dalam argumentasi-argumentasi fikih yang mendalam, Pemimpin Syahid pun masuk ke dalam diskusi dengan sangat serius. Penguasaan beliau terhadap dalil-dalil fikih begitu tinggi sehingga satu dua kali saya ingin ikut serta dalam diskusi, tetapi saya tidak mengizinkan diri saya sendiri. Kemudian orang-orang lain masuk, dan Imam Khamenei mengakhiri diskusi tersebut. Pada hari itulah, ijtihad dan kefakihan beliau terbukti bagiku.'
Beliau melanjutkan: 'Beliau adalah seorang fakih dan mujtahid dalam arti sebenarnya, dan memiliki penguasaan yang luar biasa terhadap dalil-dalil fikih. Bakat beliau adalah bakat yang langka dan cemerlang, dan beliau menguasai berbagai pembahasan dengan baik. Itu dari segi kefakihan. Dari segi keadilan, harus dikatakan bahwa beliau telah melampaui keadilan dan mencapai derajat zuhud serta ketidakpedulian terhadap jabatan-jabatan.'
Ayatullah Alamulhuda menambahkan: "Dua tahun lalu, ketika kuliah-kuliah dars-e kharij beliau di Qom menjadi terkenal dan mendapat perhatian luas, sejumlah pihak yang berseberangan mulai menyebarkan isu bahwa dimulainya kuliah-kuliah tersebut merupakan pendahuluan untuk mencapai posisi kepemimpinan. Begitu beliau mengetahui hal ini, beliau segera menghentikan kuliah-kuliah itu agar tidak timbul anggapan apa pun bahwa beliau memiliki ketertarikan pada kekuasaan dan kepemimpinan. Hal ini menunjukkan betapa besarnya rasa tidak suka beliau terhadap jabatan-jabatan kekuasaan."
Rekomendasi Ayatullah Makarim mengenai Tuan Mujtaba
Beliau melanjutkan: "Kedudukan ilmiah dan fikih beliau (Sayyid Mujtaba Khamenei) telah terbukti bagi saya sejak sebelumnya, tetapi apa yang semakin memperkuat keyakinan kami adalah pendapat tegas yang disampaikan oleh seorang marja' (rujukan) agama terkemuka. Pada hari Senin pagi, sehari setelah syahadah Pemimpin Agung Revolusi, Tuan Muhyiddin, putra Ayatullah al-Uzma Makarim Shirazi, menelepon saya. Ia mengatakan bahwa ayahnya pada malam sebelumnya telah bertanya kepadanya: 'Apakah Majelis Ahli telah melakukan tindakan apa pun mengenai kepemimpinan (rahbari)?' Ketika mendengar jawaban negatif, Yang Mulia Ayatullah Makarim Shirazi berkata: 'Bukankah putra Pemimpin Agung Revolusi ada di sana? Apa yang mereka tunggu? Ajukanlah namanya.'"
Ayatullah Alamulhuda menambahkan: "Saya bertanya kepadanya: 'Apakah Ayatullah al-Uzma Makarim Shirazi benar-benar mengatakan hal itu?' Ia menjawab: 'Ya.' Kemudian kami menghubungi Ayatullah Ka'bi, anggota Presidium Majelis Ahli, dan menyampaikan hal tersebut kepadanya. Setelah itu, kami meminta Tuan Muhyiddin untuk meminta izin dari ayahnya agar pendapat beliau dapat disampaikan secara resmi kepada Presidium Majelis Ahli. Yang Mulia Ayatullah Makarim Shirazi menyetujuinya dan berkata: 'Baiklah, kalian adalah perwakilanku dalam menyampaikan pendapatku ini.'"
Beliau menandaskan: "Dengan dukungan dari marja' setingkat itu, tekad kami mengenai pilihan ini semakin mantap. Setiap anggota Majelis Ahli yang kami ajak berkonsultasi, mereka mengatakan bahwa pandangan mereka cenderung kepada Tuan Haji Mujtaba dan tidak ada seorang pun yang lebih baik dari beliau."
Satu-satunya Pilihan untuk Kepemimpinan
Imam Jumat Mashhad menyatakan: 'Beliau (Sayyid Mujtaba Khamenei) telah hidup selama tiga puluh tahun di samping Pemimpin Agung Revolusi dan telah belajar darinya tentang manajemen, politik, dan komando militer. Berkat kecerdasan dan kemampuan luar biasanya, beliau telah menyerap semua keahlian kepemimpinan dari sang Pemimpin. Oleh karena itu, kami tidak menemukan seorang pun yang lebih baik dari beliau. Meskipun demikian, badan-badan keamanan mengingatkan Majelis Ahli agar tidak mengadakan sidang, karena mereka khawatir Amerika Serikat akan menargetkan para anggota atau mereka akan dibunuh. Karena itulah, sidang tersebut tidak mudah untuk dilaksanakan.'
Beliau melanjutkan: 'Pada suatu hari ketika saya sedang mengajar tafsir Al-Qur'an di Husainiyah ini, sejumlah bapak-bapak dan ibu-ibu masuk dan berkata: "Anda adalah anggota Majelis Ahli dan perwakilan kami, dan sekarang kami tidak memiliki pemimpin. Bagaimana mungkin Anda duduk di sini mengajar tafsir dan tidak memilih pemimpin?"
Saya menjawab bahwa pemimpin telah ditentukan sebelumnya bagi sebagian besar anggota Majelis Ahli, dan yang diperlukan hanyalah Presidium mengadakan sidang dan mengumumkan hasilnya.'"
Ayatullah Alamulhuda menambahkan: "Setelah itu, media memberitakan pernyataan saya dan tekanan publik mulai meningkat, hingga akhirnya Presidium berhasil mengadakan sidang. Tidak semua anggota Majelis Ahli hadir, tetapi menurut peraturan internal, kuorum dua pertiga sudah cukup untuk mensahkan sidang. Lebih dari dua pertiga anggota hadir; sekitar 61 atau 62 dari 80 orang menghadiri sidang tersebut. Setelah pemungutan suara, 50 anggota memberikan suara kepada Yang Mulia Ayatullah Sayyid Mujtaba Khamenei, dan beliau terpilih sebagai pemimpin (rahbar)."
Beliau menegaskan: "Pada awalnya, kami mempertimbangkan beliau sebagai salah satu kandidat, di samping dua atau tiga orang lainnya; tetapi setelah tiga bulan masa kepemimpinan beliau, kami menyadari bahwa beliau bukan sekadar salah satu pilihan di antara beberapa pilihan, melainkan satu-satunya pemimpin. Tidak ada orang lain yang mampu memimpin negara dalam kondisi seperti ini, mengelola perang, mengarahkan diplomasi dan politik luar negeri, serta mengatur urusan dalam negeri; terlebih dalam situasi ketika kantor beliau hancur dan stafnya terpencar, dan beliau mengelola segala urusan melalui surat-menyurat dan komunikasi tertulis."
Di mana pun ada perlawanan terhadap Amerika, Ayatullah Khamenei pun ada di sana
Anggota Majelis Ahli Kepemimpinan tersebut mengatakan: "Pemimpin Syahid (Imam Ali Khamenei) sejak awal memiliki semangat yang tinggi terhadap persoalan-persoalan Islam, sangat sensitif terhadap syiar-syiar Islam dan simbol-simbol keagamaan, dan secara tegas melawan setiap bentuk penentangan terhadap agama. Sejak awal pula, beliau memiliki jiwa revolusioner dan sikap melawan terhadap sistem imperialisme (istikbar) dan rezim monarki (rezim Syah) yang tirani."
Beliau melanjutkan: "Semoga Allah merahmati almarhum Nawab Safawi, yang pernah melakukan perjalanan ke Mashhad. Pemimpin Agung Revolusi, Syahid Ayatullah al-Uzma Khamenei, ketika itu masih remaja dan tidak pernah berpisah dari almarhum Nawab. Meskipun banyak pertemuan yang diadakan di tingkat tinggi, beliau sebagai seorang remaja turut hadir di dalamnya. Ketertarikan khusus terhadap pribadi almarhum Nawab dan semangat perjuangannya melawan imperialisme dan rezim monarki tirani, menyebabkan beliau sejak awal memilih jalan ini, dan di mana pun ada tanda-tanda perlawanan, bahkan sebelum pemberontakan Imam Khomeini (ra.), Ayatullah Khamenei pun hadir di sana."
Persatuan Islam; Keyakinan Abadi Pemimpin Syahid
Ayatullah Alamulhuda, dalam menjawab pertanyaan mengenai keyakinan Pemimpin Syahid terhadap persatuan dan kesatuan, menyatakan: "Beliau bahkan sebelum dimulainya gerakan Imam Khomeini (ra), pada masa menuntut ilmu dan masa mudanya, sudah memiliki semangat yang sama; semangat yang didasarkan pada persatuan Islam. Beliau meyakini bahwa umat Islam harus bersatu dan tanpa persatuan Islam, mustahil dapat mengalahkan kekuatan imperialisme. Ini adalah realitas yang telah beliau pahami dengan baik."
Alasan Pemakaman Pemimpin Syahid Sayyid Ali Khamenei ra di Mashhad
Ayatullah Alamulhuda mengenai wasiat dan lokasi pemakaman Pemimpin Syahid berkata: "Mengenai wasiat beliau, kami tidak mengetahuinya, karena belum diumumkan dan masih berada di tangan putra-putra beliau, serta belum sampai kepada kami. Mashhad juga adalah kota beliau, dan beliau memiliki kecintaan khusus terhadap kota ini. Beliau sendiri pernah berkata kepada saya, bahwa jika bukan karena repotnya pergerakan petugas keamanan, beliau akan berusaha datang ke Mashhad sekali sebulan untuk berziarah."
Imam Jumat Mashhad menambahkan: "Semua kenangan beliau terikat dengan Mashhad. Ketika datang ke Mashhad, kadang-kadang beliau naik kendaraan dan mengunjungi berbagai wilayah kota. Beliau tertarik pada lingkungan-lingkungan tua Mashhad dan berkomitmen untuk melihatnya secara langsung. Kecintaan beliau terhadap Mashhad menjadikan wajar jika tempat pemakaman beliau juga di kota ini. Kami orang Mashhad pun biasanya di mana pun kami meninggal, kami ingin jenazah kami dipindahkan ke Mashhad."
Anggota Majelis Ahli Kepemimpinan tersebut menegaskan: "Di kompleks suci (Makam Imam Ali Ridho as) pun, almarhum Ayatullah Thabasi telah menyiapkan makam untuk beliau. Imam Khamenei ra sendiri satu dua kali telah menyinggung masalah ini, tetapi beliau tidak mengatakan bahwa harus dimakamkan di tempat itu. Oleh karena itu, masalah pemakaman di Mashhad adalah proses yang alami. Jika ada wasiat pun, belum dipublikasikan, tetapi kecintaan beliau terhadap Mashhad, statusnya sebagai orang Mashhad, dan keterikatan mendalam yang beliau miliki terhadap kota ini, mengharuskan beliau dimakamkan di samping Imam Ridha (as); sebuah tempat yang lebih diperhatikan oleh para peziarah dan masyarakat daripada tempat mana pun."
Komentar Anda